Tsaqofah

Upaya Pembunuhan kepada Nabi Yusuf dan Narasi yang Penuh Kebohongan

Jika ditanya mana kisah terbaik dalam al-Qur’an, maka Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan kisah terbaik tersebut adalah kisah Nabi Yusuf ‘alaihissalam.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ اَحْسَنَ الْقَصَصِ بِمَاۤ اَوْحَيْنَاۤ اِلَيْكَ هٰذَا الْقُرْاٰنَ ۖ وَاِنْ كُنْتَ مِنْ قَبْلِهٖ لَمِنَ الْغٰفِلِيْنَ

“Kami menceritakan kepadamu (Muhammad) kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al-Qur’an ini kepadamu, dan sesungguhnya engkau sebelum itu termasuk orang yang tidak mengetahui.” (QS. Yusuf (12): 3)

Makar Jahat

Nabi Ya’qub ‘alaihissalam sangat sayang kepada Yusuf sehingga membuat saudara-saudaranya merasa iri dengannya. Lalu mereka berkumpul untuk membuat makar kepadanya agar Yusuf dijauhkan dari ayahnya dan kasih sayang itu beralih kepada mereka.

Setidaknya ada tiga aspirasi jahat mereka dalam mencelakai Yusuf, yaitu: membunuh secara langsung, membuang ke tempat yang jauh atau memasukkan ke dalam sumur. Usulan agar Yusuf dimasukkan ke dalam sumur yang berada jauh agar nanti ditemukan oleh kafilah yang lewat, lalu mereka mengambil dan menjualnya, ternyata usulan inilah yang dipandang baik dan diterima mereka.

Selanjutnya mereka merancang makar. Mereka datang kepada ayah mereka dan berkata, “Wahai ayah kami, apa sebabnya kamu tidak mempercayai kami terhadap Yusuf, padahal sesungguhnya kami adalah orang-orang yang menginginkan kebaikan baginya. Biarkanlah dia pergi bersama kami besok pagi, agar dia (dapat) bersenang-senang dan (dapat) bermain-main, dan sesungguhnya kami pasti menjaganya”. Nabi Ya’qub berkata, “Sesungguhnya kepergian kamu bersama Yusuf sangat menyedihkanku dan aku khawatir kalau-kalau dia dimakan serigala, sedangkan kamu lengah darinya”. Mereka menjawab, “Jika ia benar-benar dimakan serigala, sedang kami golongan (yang kuat), sesungguhnya kami kalau demikian adalah orang-orang yang rugi.” (QS. Yusuf (12): 11-14).

Pada suatu pagi, mereka keluar membawa Yusuf ke gurun sambil menggembala kambing-kambing mereka. Lalu mereka memulai rencana jahat tersebut. Saat tiba di sebuah sumur, lalu mereka melepas baju Yusuf dan melempar Yusuf ke dalamnya. Ketika itu, Allah mewahyukan kepada Yusuf, “Sesungguhnya kamu akan menceritakan kepada mereka perbuatan mereka ini, sedang mereka tidak ingat lagi.” (QS. Yusuf (12): 15)

Narasi Bohong Saat “Konferensi Pers”

Masalahnya tidak selesai di sana. Karena makar jahat dan narasi kebohongan, lazimnya harus ditutupi oleh kebohongan lainnya. Jadi setelah mereka berhasil memasukkan Yusuf ke sumur, maka mereka berpikir kembali tentang apa yang akan mereka katakan nanti di hadapan ayah mereka ketika ayahnya bertanya tentang Yusuf. Mereka bersepakat membuat narasi bahwa seekor serigala memakan Nabi Yusuf, dan untuk menguatkan pernyataan mereka itu, mereka sembelih seekor kambing lalu darahnya mereka lumuri ke baju Yusuf. Narasi yang dirangkai demikian rapi.

Ketika mereka pulang menemui ayahnya, mereka berakting dengan pura-pura menangis. Nabi Ya’qub pun melihat mereka dan ternyata Yusuf tidak ada di tengah-tengah mereka, lalu mereka memberitahukan secara dusta, bahwa Yusuf dimakan serigala. Selanjutnya mereka mengeluarkan gamisnya yang berlumuran darah untuk menguatkan pernyataan mereka.

Tak ada kejahatan dan kebohongan yang sempurna. Nabi Ya’qub melihat gamisnya dalam keadaan tidak robek, karena mereka lupa merobeknya, lalu Ya’qub berkata kepada mereka, “Sungguh aneh serigala ini, mengapa ia bersikap sayang kepada Yusuf, ia memakannya tanpa merobek pakaiannya”. Lalu Ya’qub berkata kepada mereka, “Sebenarnya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu; maka kesabaran yang baik Itulah (kesabaranku). Dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan.” (QS. Yusuf (12): 18)

Pelajaran

Sebuah kafilah dagang yang hendak menuju ke Mesir ini mengeluarkan Yusuf dan membawanya bersama mereka menuju Mesir untuk dijual. Lalu Yusuf dibeli oleh raja Al-‘Aziz dengan harga beberapa dirham. Akhirnya Yusuf hidup di bawah asuhan raja Al-‘Aziz dan pengurusannya.

Tujuan dari kisah tersebut adalah agar menjadi ibrah (pelajaran) sebagaimana yang Allah subhanahu wa ta’ala sebutkan di akhir QS. Yasin,

لَـقَدْ كَانَ فِيْ قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِّاُولِى الْاَلْبَا بِ ۗ مَا كَانَ حَدِيْثًا يُّفْتَـرٰى وَلٰـكِنْ تَصْدِيْقَ الَّذِيْ بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيْلَ كُلِّ شَيْءٍ وَّهُدًى وَّرَحْمَةً لِّـقَوْمٍ يُّؤْمِنُوْنَ

“Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang yang mempunyai akal. (Al-Qur’an) itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya, menjelaskan segala sesuatu, dan (sebagai) petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Yusuf (12): 111).

Kalau kita refleksikan pada hari ini, saat hak dan batil begitu samar, semoga Allah menampakkan kepada kita mana yang hak dan mana yang batil, dan kebatilan itu segera hancur. Wallahu a’lam.

Sukabumi, 10 Desember 2020

Yuana Ryan Tresna

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Close
Close