Tsaqofah

UMAT INI ADALAH UMAT TERBAIK SAATNYA UMAT INI MEMIMPIN DUNIA

Oleh: KH Hafidz Abdurrahman

Pandemi yang menimpa dunia lebih satu tahun ini mempunyai dampak besar pada dunia. Tidak saja menyebabkan terjadinya resesi ekonomi, bahkan yang dikhawatirkan oleh Henry Kissinger, mantan Menlu AS itu, adalah ambruknya tatatan dunia. Sampai saat ini belum ada obat atau anti virus yang bisa menyelesaikan Pandemi Covid-19. Di kota-kota besar, di negara adidaya seperti AS, jutaan orang telah melakukan migrasi dari kota ke pedalaman, karena harus bertahan hidup. Di sisi lain, umat Islam, di seluruh dunia juga mengalami situasi yang sama. Bahkan, mungkin lebih menderita.

Meski, boleh jadi mereka lebih kuat, karena mereka selama ini sudah terbiasa hidup menderita. Selain mereka juga memiliki daya tahan yang luar biasa, karena mempunyai akidah yang luar biasa. Akidah yang melahirkan keyakinan yang kokoh, menghubungkan kekuatan mereka yang terbatas, dan lemah, dengan ke-Maha Besar-an dan ke-Maha Kuasa-an Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tuhan Pencipta dan Pengatur alam semesta.

Belum pernah di muka bumi ini ada umat yang begitu luar biasa kekuatannya, mengalahkan kekuatan umat Nabi Muhammad Shalla-Llahu ‘alaihi wa Sallama. Mereka pernah terpuruk, bahkan menjadi korban pembantaian dan pembumihangusan Tatar di Baghdad, kaum Kristen di Spanyol, dan beberapa wilayah lainnya, seperti Syam, tetapi akhirnya mereka bisa bangkit dan memimpin kembali dunia. Bahkan, mereka berhasil mewujudkan Bisyarah Rasulullah Shalla-Llahu ‘alaihi wa Sallama, menaklukkan Konstantinopel, setelah jantung kekuasaan mereka di Baghdad, Mesir, Damaskus, dan Spanyol, berada di titik nadir.

Inilah umat Islam. Umat terbaik. Umat yang distempel oleh Allah, Tuhan, Pencipta alam semesta sebagai, “Kuntum Khaira Ummah” [kalian adalah umat terbaik]. [Q.s. Ali ‘Imran: 110].

 

Rahasia Umat Terbaik

Umat Islam ini adalah umat yang dibentuk, dididik dan senantiasa didoakan oleh Nabi Muhammad Shalla-Llahu ‘alaihi wa Sallama, Nabi yang dipilih oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dari 124,000 nabi keturunan Adam ‘Alaihissalam. Dari 124,000 nabi keturunan Adam ‘Alaihissalam, Allah pilih 313 rasul. Dari 313 rasul itu, Allah pilih 5 Ulul Azmi, yaitu Nabi Nuh, Ibrahim, Musa, Isa ‘Alaihimussalam dan Nabi Muhammad Shalla-Llahu ‘alaihi wa Sallama. Dari 5 Ulul Azmi, Allah pilih 2 Khalilu-Llah [kekasih yang cintanya kepada-Nya tak bertepi] [Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah, Zad al-Ma’ad, Juz I/43]. Dari 2 Khalilu-Llah, Allah tetapkan, hanya baginda Shalla-Llahu ‘alaihi wa Sallama yang namanya bersanding dengan-Nya, “La Ilaha illa-Llah, Muhammad Rasulu-Llah.”

Tidak sampai di situ, Allah pilihkan untuk umat dari Nabi terbaik-Nya itu agama yang paling lengkap. Syariatnya adalah syariat terbaik. Akhlaknya paling baik, bersih dan cemerlang [Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah, Zad al-Ma’ad, Juz I/45]. Bahkan, siapa saja yang memeluk selain Islam, tidak akan pernah Dia terima [Q.s. Ali ‘Imran: 85].

Tidak hanya Allah yang memberikan stempel sebagai umat terbaik. Nabi Shalla-Llahu ‘alaihi wa Sallama, dalam riwayat Imam Ahmad, menyatakan, bahwa umat ini adalah umat terbaik dan paling mulia di antara 70 umat yang lain [Hr. Ahmad, Musnad, Juz V/5]. Tidak hanya di dunia, nanti di akhirat, di antara 120 barisan penghuni surga, 80 baris adalah umat ini, sisanya [40 baris] diisi oleh 69 umat yang lain [Hr. At-Tirmidzi, Sunan, no. 2549; Ahmad, Musnad, Juz V/347; Ibn Majah, Sunan, no. 4289; al-Hakim, al-Mustadrak, Juz I/82]. Umat ini, tidak hanya distempel menjadi umat terbaik, tetapi memang diberikan ilmu dan hilm [kesabaran, kelapangan hati dan kepekaan], yang menjadikan mereka memang layak menjadi umat terbaik.

Tidak hanya manusianya, Allah jadikan sebagai manusia terbaik. Tetapi juga waktu dan tempatnya. Allah jadikan untuknya, dari 12 bulan, 4 bulan haram [suci]. 10 malam, dari bulan Dzulhijjah [tanggal 1-10], sebagai 10 malam terbaik. Di sana juga ada hari terbaik, Yaum an-Nahr [10 Dzulhijjah] dan Hari Arafah [9 Dzulhijjah]. Allah juga jadikan, 1 malamnya, dari bulan Rajab, 27 Rajab, sebagai malam terbaik bagi Nabi-Nya, dengan Isra’ dan Mikraj. Tidak hanya itu, Allah juga tetapkan untuknya, bulan penuh berkah, yaitu Ramadhan, yang pahala amalan sunah sama dengan pahala amalan wajib. Pahala amalan wajib dilipatgandakan 70 kali di luar bulan ini. Bahkan, Allah anugerahkan untuk umat ini, malam terbaik, Lailatu al-Qadar. 1 malam nilainya lebih baik dari 1000 bulan, atau 83 tahun.

Tanahnya juga dijadikan suci, sehingga umat ini bisa menyembah Allah di mana pun mereka berada. Dari tanah-tanah itu, Allah tetapkan, Makkah, sebagai tanah haram [suci] melalui lisan Ibrahim, dan Madinah, sebagai tanah haram [suci] melalui lisan Nabi Muhammad. Shalat di Masjidil Haram pahalanya dilipatgandakan 100,000 kali, sedangkan shalat di Masjid Nabawi, pahalanya dilipatgandakan 1000 kali. Tidak hanya itu, Allah juga jadikan Masjidil Aqsa, kiblat pertama, sebagai tempat ketiga, yang diberkati.

 

Umat Terbaik Memimpin Dunia

Inilah persepsi yang harus dimiliki oleh umat Islam, sebagai umat terbaik. Terlebih, di saat dunia membutuhkan mereka.

Selama sepuluh tahun di Makkah, Nabi Shalla-Llahu ‘alaihi wa Sallama menanamkan keyakinan kepada umat ini. Keyakinan yang mengubah diri mereka, dari budak menjadi orang merdeka. Dari manusia hina menjadi manusia yang mulia. Allah stempel mereka dengan titahnya, “Kalian adalah umat terbaik, yang dihadirkan untuk seluruh umat manusia.” [Q.s. Ali ‘Imran: 110]

Sejak di Makkah, Nabi Shalla-Llahu ‘alaihi wa Sallama sudah menyatakan, “Berikan satu kata, jika [kalian nyatakan], maka seluruh bangsa Arab akan tunduk kepada kalian. Orang non-Arab akan membayar Jizyah kepada kalian.” Mereka mengatakan, jangankan satu kata, sepuluh kata pun kami siap. Kata Nabi, “Ucapkanlah “La Ilaha Illa-Llah Muhammad Rasulullah.” [Tidak ada yang berhak disembah, kecuali Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah].” [Hr. Al-Baihaqi]

Sayangnya mereka menolak. Satu kata itu, yaitu kalimat Tauhid, akhirnya hanya diterima oleh orang-orang biasa, bukan orang-orang kuat. Tetapi setelah kalimat itu mengubah mindset mereka, mereka pun berubah menjadi orang kuat, mulia dan luar biasa. Mereka menjadi manusia yang benar-benar merdeka, yang hanya bisa diperhamba oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka, perlahan tapi pasti, Nabi telah berhasil membangun sandaran kekuasaan untuk memimpin umat ini, agar menjadi pemimpin bagi umat yang lain. Mereka benar-benar merealisasikan titah-Nya, “Kalian adalah umat terbaik, yang dihadirkan untuk seluruh umat manusia.” [Q.s. Ali ‘Imran: 110]

Ketika kaum Kafir Quraisy menyadari, bahwa Nabi menginginkan kekuasaan, mereka menawarkan kekuasaan kepada Nabi, tetapi dengan tegas baginda tolak. Mengapa? Karena mereka tidak mengimani Islam. Tetapi, ketika Nabi mendapatkan kekuasaan dari penduduk Madinah, meski mereka masih kalah jauh pengaruhnya di banding dengan kaum Quraisy, tetap saja kekuasaan itu baginda terima. Mengapa? Karena penduduk Madinah telah memeluk Islam. Dengan begitu, mereka bisa dijadikan sebagai sandaran kekuasaan Nabi.

Nabi pernah menyatakan kepada mereka, “Wahai manusia, manusia itu ibarat tambang. Tokoh-tokoh mereka pada zaman Jahiliyah adalah orang-orang yang sama yang menjadi tokoh di zaman Islam, jika mereka faqih [dalam urusan agama].” [Ibn Asyakir, Tarikh Dimasyqa, Juz XXXXI/61]. Jadi, Islam sesungguhnya tidak merampas kekuasaan mereka, tetapi mengubahnya, dari bukan Islam menjadi Islam. Orangnya tetap. Karena itu, yang menjadi para penguasa pada zaman Islam, adalah mereka yang dulu menjadi tokoh di zaman Jahiliyah. Lihatlah, Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman, ‘Ali, ‘Abdurrahman bin ‘Auf, Khalid, bahkan kemudian Abu Sufyan dan Mu’awiyah bin Abi Sufyan, meski agak belakangan. Mereka adalah orang yang sama.

Karena itu, dakwah di Makkah selama 13 tahun, selain merupakan fase pembinaan, penyiapan SDM, dan pembentukan organisasi dakwah Rasulullah [Hizbur Rasul], juga menjadi fase pertarungan intelektual dan politik [shira’ fikri wa kifah siyasi]. Dari fase inilah, kepribadian dan kepemimpinan para sahabat itu terbentuk dan teruji. Berbagai onak dan duri dalam dakwah mereka lalui. Semuanya itu untuk membentuk pribadi dan kepemimpinan mereka. Mereka terbukti, tidak saja teruji fisik, dan intelektualnya, tetapi juga mental dan keimanannya. Puncaknya, ketika Abu Thalib dan Ibunda Khadijah Radhiya-Llahu ‘anha wafat tahun ke-10 kenabian, ujian yang dialami Nabi dan para sahabat semakin berat.

Ketika Nabi Shalla-Llahu ‘alaihi wa Sallama ditanya oleh Ibunda ‘Aisyah Radhiya-Llahu ‘anha, kapan hari yang paling berat dalam hidup Nabi, baginda menjawab, “Aku telah mendapatkan dari kaummu, apa yang telah aku dapatkan. Itu merupakan sesuatu yang paling berat, yang pernah aku dapatkan.” [Hr. Bukhari]. Peristiwa itu terjadi di Thaif, setelah Abu Thalib dan Ibunda Khadijah Radhiya-Llahu ‘anha wafat. Tetapi, Allah Subhanahu wa Ta’ala akhirnya menghadiahkan Isra’ dan Mikraj kepada baginda.

Menurut al-‘Allamah Muhammad Rawwas Qal’ah Jie, Isra’ dan Mikraj adalah Bisyarah, yang tidak hanya berisi titah shalat lima waktu, tetapi juga merupakan momentum peralihan kekuasaan dari Bani Israil, kepada umat Islam, umat Nabi Muhammad Shalla-Llahu ‘alaihi wa Sallama. Ketika baginda ditunjuk menjadi imam bagi 124,000 Nabi dan Rasul yang dibangkitkan oleh Allah untuk bermakmum kepada Nabi di pelataran Masjid Qubah Sakhra’ [al-‘Allamah Muhammad Rawwas Qal’ah Jie, Qira’ah Siyasiyyah li as-Sirah an-Nabawiyyah, hal. 80-81].

Maka, bulan Rajab, juga tercatat sebagai bulan dimana Nabi tidak saja mendapat Bisyarah memimpin seluruh umat manusia, tetapi juga dunia. Saat itu, datang penduduk Yatsrib, memeluk Islam, dan memberikan bai’at kepada Nabi. Setelah itu, diikuti dengan Bai’at ‘Aqabah Pertama dan Kedua. Saat Bai’at ‘Aqabah Kedua inilah, mereka menyerahkan kekuasaan kepada Nabi Shalla-Llahu ‘alaihi wa Sallama. Diikuti kemudian dengan peristiwa hijrah ke Madinah, dan Nabi Shalla-Llahu ‘alaihi wa Sallama menjadi kepala negara.

Pada saat itu, Allah menurunkan:

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا ۚ وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

“Allah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kalian, dan melakukan amal shalih, bahwa Dia akan memberikan kekuasaan kepada mereka di muka bumi, sebagaimana Dia berikan kekuasaan itu kepada orang-orang sebelum mereka [Bani Israil]. Dia juga berjanji akan mengokohkan agama mereka, yang Dia ridhai untuk mereka [Islam]. Dia juga berjanji akan mengganti setelah mereka mengalami rasa takut, dengan rasa aman. Mereka menyembah kepada-Ku, dan tidak menyekutukan Aku dengan yang lain. Siapa saja yang mengingkari [nikmat] setelah itu, maka mereka adalah orang-orang yang fasik.” [Q.s. an-Nur: 55]

Janji ini, menurut al-‘Allamah Syaikh Muhammad al-Amin al-Urami al-Harari as-Syafii, tidak hanya berlaku untuk mereka, tetapi untuk seluruh umat Islam [al-‘Allamah Syaikh Muhammad al-Amin al-Urami al-Harari as-Syafii, Tafsir Hadaiq ar-Rauh wa ar-Raihan, Juz XIX/373, dan 394-399].

Setelah Nabi Shalla-Llahu ‘alaihi wa Sallama wafat, tahun 11 H, negara yang diwariskan kepada Abu Bakar dikenal dengan Khilafah ‘ala Minhaj Nubuwwah berdiri kokoh. Ini menandai fase kedua, setelah fase pertama, Daulah Nubuwwah yang dipimpin oleh Nabi Shalla-Llahu ‘alaihi wa Sallama selama 10 tahun. Negara yang mengikuti sistem kenabian ini bertahan selama 30 tahun. Dilanjutkan dengan Khilafah Bani Umayyah, ‘Abbasiyah hingga ‘Utsmaniyah. Ini menandai fase ketiga, yaitu Mulkan ‘Adhdhan [kekuasaan yang diwariskan secara turun-temurun]. Setelah 28 Rajab 1342 H, Khilafah ‘Utsmaniyah runtuh, maka fase ketiga ini berakhir, dan memasuki fase keempat, Mulkan Jabariyyan [kekuasaan diktator].

Mulkan Jabariyan, disebut Jabari [memaksa], karena umat dipaksa memisahkan kehidupan mereka dari agamanya. Umat ini dipaksa meninggalkan sistem Islam untuk mengurus seluruh aspek kehidupan mereka. Pada saat yang sama, umat ini dipaksa untuk menerapkan sistem yang dibuat oleh manusia, khususnya negara-negara penjajah. Karena sistem ini tidak bersumber dari akidah, syariah dan agama mereka, maka mereka pun hanya bisa menerima karena dipaksa [ikrah wa ijbar], melalui invasi dan penjajahan.

Namun, fase keempat ini, sebagaimana sabda Nabi Shalla-Llahu ‘alaihi wa Sallama pasti akan berakhir. Karena, setelah itu ada fase kelima, yaitu kembalinya Khilafah ‘ala Minhaj Nubuwwah, sebagaimana yang dinyatakan dalam hadits riwayat Imam Ahmad dari Nukman bin Basyir.

 

Setelah 100 Tahun Dunia Tanpa Naungan Islam

Nabi Muhammad Shalla-Llahu ‘alaihi wa Sallama menerima mandat dari Allah, kepemimpinan umat manusia dari Bani Israil, yang dialihkan kepada umat Islam, dan baginda Shalla-Llahu ‘alaihi wa Sallama dititahkan sebagai “imam” nya. Peristiwa ini terjadi pada saat Isra’ dan Mikraj [al-‘Allamah Muhammad Rawwas Qal’ah Jie, Qira’ah Siyasiyyah li as-Sirah an-Nabawiyyah, hal. 80-81].

Menurut al-‘Allamah Muhammad Rawwas Qal’ah Jie, kepemimpinan ini dialihkan dari Bani Israil kepada umat Nabi Muhammad, ketika mereka sudah siap dan lebih layak memimpin dunia, sementara Bani Israil justru sebaliknya, telah menyimpang jauh dari agamanya. Hari ini, setelah 100 tahun dunia tanpa naungan Islam, umat Islam telah kembali kepada agamanya.

Mereka telah menemukan manhaj Nabi, yang semuanya Islami, dan tidak menyimpang sedikit pun darinya, meski hanya seutas rambut, baik dalam aspek master plan, road map, maupun kutlah-nya. Semoga kutlah ini merupakan thaifah dhahirah, sebagaimana yang dimaksud dalam hadits Nabi. Dengan SDM-nya, kutlah ini telah berjuang dengan sungguh-sungguh, siang dan malam untuk melaksanakan fardhu kifayah demi mengembalikan kehidupan Islam secara kaffah di tengah-tengah kehidupan.

Setelah semuanya itu, tapi hingga kini kemenangan yang Allah janjikan belum juga tiba, mengapa? Jawabannya, semuanya kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena kemenangan dan pertolongan itu hak prerogatif Allah. Tugas umat terbaik ini adalah terus berusaha memantaskan dirinya agar layak mendapatkan kemenangan dan pertolongan-Nya, sebagaimana layaknya Muhammad al-Fatih dan generasinya mendapatkan Bisyarah Nabi-Nya.

Ketika kaum negara-negara penjajah dan antek-anteknya berusaha mati-matian menjauhkan kembali umat terbaik ini dari agamanya, maka para pengemban dakwah harus bekerja keras membina dan mendidik umat. Mereka harus dibina dan dididik dengan tsaqafah Islam sebagai sistem kehidupan mereka. Kitab-kitab ulama’ yang menjadi khazanah intelektual mereka sudah lebih dari cukup. Bahkan, kitab-kitab fikih yang ditulis oleh ulama’ di masa lalu sudah lengkap. Sebut saja, al-Mabsuth, karya As-Sarakhsi [w. 483 H], al-Mughni, karya Ibn Qudamah [w. 629 H], dan al-Majmu’, karya Imam an-Nawawi [w. 676 H].

Maka, tugas di pundak para pengemban dakwah adalah membumikan tsaqafah Islam yang ada di dalam perut kitab-kitab itu ke tengah-tengah umat. Pada saatnya, kemenangan itu pasti akan Allah berikan. Just a matter of time.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close