Nafsiyah

Memuliakan Ilmu dan Menghargai Murid

Adab ilmu menempati tempat yang agung dalam Islam. Imam Abdullah Ibn al-Mubarak (w. 181 H) mengungkapkan bahwa seseorang tidaklah menjadi mulia dengan suatu jenis ilmu selama tak menghiasi ilmunya dengan adab.1

Ibn al-Mubarak pun mengungkapkan bahwa keimanan memiliki lima pilar benteng: Pertama, keyakinan. Kedua, keikhlasan. Ketiga, pengamalan kewajiban-kewajiban. Keempat, pengamalan berbagai hal yang disunnahkan. Kelima, memelihara adab. Selama seorang hamba memelihara adab-adab dan berpegang teguh padanya maka setan tak akan memiliki harapan atasnya. Jika ia meninggalkan adab, setan akan merusak pengamalan berbagai kesunnahan, lalu berbagai kewajiban, kemudian keikhlasan, hingga keyakinan. WaLlâhu a’lam.2

Ahnaf bin Qays berkata bahwa adab adalah cahaya akal. Sebagaimana api dalam kegelapan adalah cahaya bagi penglihatan.3 Sebagian orang bijak pun menegaskan bahwa tidak ada adab kecuali dengan akal dan tidak ada akal kecuali dengan adab.4

Karena itu relevan jika Islam mengajarkan adab mencari ilmu dan mengajarkannya. Di antara adab mengajarkan ilmu sebagaimana diuraikan dalam Min Muqawwimât al-Nafsiyyah al-Islâmiyyah adalah: (1) Menegur mereka yang meremehkan ilmu dan hukum syariah; (2) Memperhatikan pernyataan dan pertanyaan murid; (3) Berbicara kepada orang yang mau mendengarkan dan tidak sebaliknya. Rinciannya sebagai berikut:

 

  1. Menegur mereka yang meremehkan ilmu dan Hukum Syariah.

Di antara adab untuk menjaga kemuliaan dan keberkahan dan ilmu adalah: “Menegur orang bodoh yang menyalahi dan meremehkan hukum syariah, termasuk orang bodoh yang mencari-cari alasan kepada seorang ahli ilmu yang mempunyai pendapat berbeda dengan pendapat gurunya.”

Salah satu dalilnya adalah hadis dari Abdullah bin al-Mughaffal yang berkata:

نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَن الخَذْفِ

Nabi saw. telah melarang al-khadzf (HR al-Bukhari, Muslim, Ahmaddan al-Hakim).

 

Dalam riwayat ini pun digambarkan: “Ada seseorang yang melempar-lempar batu kecil di dekat Abdullah al-Mughaffal, kemudian ia berkata: “Aku sedang menceritakan kepadamu tentang Rasulullah saw., sedangkan kamu malah melempar-lempar sesuatu. Demi Allah, aku tak akan berbicara lagi dengan kamu selamanya.”

Secara manthûq, jelas digambarkan adanya larangan Rasulullah saw. atas al-khadzf, yang berkonotasi melempar-lempar batu kecil atau biji-bijian dalam suatu majelis (di tengah kajian). Pengertian ini disebut Imam Ibn Baththal (w. 449 H) dalam Syarh al-Bukhâri (V/388) sebagai pendapat ahli bahasa.5 Ditegaskan oleh Al-Hafizh Ibn al-Jauzi (w. 597 H) dalam Kasyf al-Musykil (I/492) hal itu sebagai pendapat yang paling umumnya dipahami (aghlab). Itu dilakukan dengan jari-jemari. Sikap tersebut dalam perspektif manthiq, mengandung dilâlah ghayr lafzhiyyah (petunjuk tersirat) dari sikap menyepelekan ilmu. Sibuk dengan perkara yang melalaikan dan kesia-siaan.

Pada masa kini perbuatan ini bisa diserupakan dengan perbuatan jari-jemari memainkan gadget ketika menuntut ilmu. Padahal tidak ada kebutuhan mendesak untuk itu (alasan syar’i).

 

  1. Berbicara kepada orang yang mau mendengarkan dan tidak sebaliknya.

Adab lainnya yang berfungsi menjaga kemuliaan ilmu adalah tidak membicarakan ilmu kecuali kepada orang yang layak, yakni yang mau mendengarkan ilmu:

عَدَمُ الْحْدِيْثِ مَعَ مَنْ لا يَنْصِتُ

Tidak berbicara dengan orang yang tidak mau diam.

 

Maknanya, seseorang yang tak mau diam ketika diajak bicara, artinya tak mau mendengarkan. Adab ini pun berlaku baik dalam konteks bahasa lisan maupun bahasa tulisan, semisal diskusi di media sosial. Sebagaimana kaidah yang diutarakan Syaikh Nawawi al-Bantani (w. 1314 H):

أَنَّ الْقَلَمَ أَحَدُ اللِّسَانَيْنِ لِلإِنْسَانِ وَ لِأَنَّ الْكِتَابَة بِهِ تَدُلُّ عَلَى عِبَارَة اللِّسَانِ

Tulisan merupakan salah satu lisan bagi manusia karena tulisan menunjukkan ungkapan lisan.6

 

Hal itu sebagaimana adab yang diajarkan Rasulullah saw ketika berbicara di hadapan manusia. Jarir bin Abdullah ra. menuturkan bahwa Rasulullah saw. pernah berkata kepada dia pada saat Haji Wada:

اسْتَنْصِت النَّاسَ

Perintahkan orang-orang untuk diam (HR al-Bukhari dan Muslim).

 

Tujuannya agar mereka menyimak apa yang diutarakan Rasulullah saw. Ini sebagaimana nasihat Abu Amr bin al-‘Ala’ (w. 154 H)7 yang dinukiloleh Al-Khatib al-Baghdadi (w. 463 H):

وَ لَيْسَ مِنَ الْأَدَبِ أَنْ تُجِيْبَ مَنْ لا يَسْأَلُكَ، أَوْ تَسْأَلَ مَنْ لاَ يُجِيْبُكَ، أَوْ تُحَدِّثَ مَنْ لاَ يَنْصِتُ لَكَ

Tidak termasuk adab yang baik jika engkau menjawab orang yang tidak bertanya kepadamu, bertanya kepada orang yang tidak mau menjawab pertanyaanmu, atau berbicara kepada orang yang tidak mau diam mendengarkanmu.8

 

Pasalnya, menyimak perkataan merupakan karakter mendasar golongan ulul albâb. Ini sebagaimana firman-Nya:

ٱلَّذِينَ يَسۡتَمِعُونَ ٱلۡقَوۡلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحۡسَنَهُۥٓۚ أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ هَدَىٰهُمُ ٱللَّهُۖ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمۡ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَٰبِ  ١٨

Orang-orang yang mendengarkan perkataan, lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya, mereka itulah yang telah Allah beri petunjuk dan yang mempunyai akal (QS az-Zumar [39]: 18).

 

Menyimak suatu perkataan (istimâ’ al-qaul) dan mengikuti yang terbaik di antaranya (ittibâ’ al-ahsan), termasuk karakter unggul golongan orang yang berpikir (ulul albâb). Istimewanya, Allah memilih diksi yastami’ûna, berbentuk kata kerja al-mudhâri’, menunjukkan perbuatan yang bersifat kontinu, berkonotasi menyimak (istama’a-yastami’u), yakni mendengarkan disertai perhatian. Lalu bagaimana mungkin ilmu bisa tersampaikan jika yang diajak bicara tak mau diam mendengarkan?

 

  1. Memperhatikan pernyataan dan pertanyaan murid.

Seorang pengajar perlu memperhatikan adab berinteraksi dengan muridnya. Di antaranya mMendengarkan baik-baik peserta didik yang bertanya.

Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah dan Ibn Hibban dalam Rawdhah al-’Uqala berkata: Kami dikabari oleh Muadz bin Saad al-A’war yang berkata: Aku pernah duduk dekat Atha bin Abi Rabah. Kemudian ada seseorang berbicara tentang sesuatu. Lalu tiba-tiba ada orang lain dari kaum itu menyela ucapannya. Muadz berkata: Kemudian Atha’ marah dan berkata, “Akhlak apa ini? Tabiat apa ini? Sungguh aku benar-benar akan mendengarkan ucapan seseorang, padahal aku lebih tahu tentang apa yang dia ucapkan. Lalu aku memperlihatkan kepada dia seolah-olah aku tidak lebih baik (pengetahuanku) dari dirinya tentang apa yang dia ucapkan.”

Kalimat “Akhlak apa ini? Tabiat apa ini? (Mâ hadzihi al-akhlâq wa mâ hadzihi al-thabâi’a),” dalam perspektif ilmu balaghah, merupakan pengingkaran bernada pertanyaan (istifhâm inkâri). Ini menjadi petunjuk tersurat (dilâlah lafzhiyyah) berupa celaan atasnya, diikuti dengan pengakuan yang menggambarkan karakter seseorang yang tawadhdhu’ terhadap ilmu, dari siapa pun datangnya ilmu tersebut.

Tiga poin di atas merupakan sedikit dari bukti keagungan ajaran Islam yang menempatkan ilmu dan ahlinya serta pencarinya pada tempat yang mulia. Beruntunglah mereka yang meniti jalan ilmu dan menunjukki manusia pada jalan-Nya.

Wa biLlâhi at-tawfîq. [Irfan Abu Naveed; [Praktisi Pendidikan, Penulis Buku “Menggugah Nafsiyyah Dakwah Berjama’ah]]

 

Catatan kaki:

1        Syamsuddin Abu al-‘Awn al-Safarini, Ghidzâ’ al-Albâb fî Syarh Manzhûmat al-آdâb, Mesir: Mu’assasat Qurthubah, cet. II, 1414 H, juz I, hlm. 36.

2        Muhammad bin Muflih al-Hanbali, Al-آdâb al-Syar’iyyah, ‘آlam al-Kutub, juz III, hlm. 552.

       Ibid.

       Ibid.

5        Di antaranya al-Khalil bin Ahmad (w. 170 H), guru dari Sibawaih; Al-Khalil bin Ahmad, Kitâb al-‘Ain, Dar al-Hilal, juz IV, hlm. 245.

6        Muhammad Nawawi bin Umar, Syarh Sullam al-Taufîq, Jakarta: Dar al-Kutub al-Islamiyyah, cet. I, 1431 H, hlm. 132

7        Ulama ahli qira’at, nahwu dan bahasa arab.

8        Ahmad bin Ali al-Khathib al-Baghdadi, Al-Faqîh wa al-Mutafaqqih, KSA: Dar Ibn al-Jauzi, 1417 H, juz I, hlm. 375.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Close
Close