Ekonomi

Barat Maju Dengan Mengorbankan Pihak Lain

Sebagaimana telah diketahui, sistem ekonomi kapitalis saat ini membawa banyak malapetaka. Sistem ekonomi kapitalis juga sedang menuju kebangkrutannya. Kepada wartawan kami, Gus Uwik, Dr. M. Salim ATCHIA (Representasi Hizbut Tahrir Inggris) memaparkan masalah di seputar kedua masalah ini: malapetaka dan kebangkrutan sistem ekonomi kapitalis ini. Berikut petikan wawancaranya.

Banyak kaum Muslim yang merasa kagum kepada negara-negara Barat, terutama dalam hal kemajuan ekonominya. Bagaimana menurut Anda?

Mengapa kita melihat Kapitalisme sukses? Mungkin ada suatu kebenaran di sini. Ketika kita melihat suatu kesuksesan, kita mengukurnya dengan hal lain. di sisi lain, di Dunia Islam, kita tidak punya air PAM; kita tidak punya listrik 24 jam. Sebaliknya, digambarkan oleh media, bahwa Barat selalu punya solusi untuk masalah ini. Kalau dilihat secara dangkal, mereka sepertinya membuat kemajuan; mereka bahkan kita jadikan model, karena hal ini dipaksakan kepada kita. Sebaliknya, kita lihat Mesir, misalnya. Negara itu mempunyai orang yang bergelar Phd paling banyak di dunia. Apa yang terjadi dengan orang yang bergelar Phd? Dia menjadi supir taksi di Kairo. Negara tidak memanfaatkan pengetahuan yang dimiliki masyarakat atau tidak bisa memanfaatkannya karena cara mereka memerintah. Karena itu, cara satu-satunya untuk memanfaatkan pengetahuan mereka adalah mereka pergi ke Barat.

Mengapa Barat terlihat maju? Karena mereka punya sistem ideologi; mereka punya sistem kehidupan. Jika mereka punya masalah, mereka akan merujuk pada ideologi mereka untuk memecahkan masalahnya. Ini berbeda dengan kita di Dunia Islam. Kita punya ideologi. Namun, ketika kita punya masalah, solusi yang kita punya 5 hingga 6 solusi. Saya beri contoh begini. Kita punya satu masalah di Dunia Islam. Contohnya di Palestina. Solusi terhadap Palestina tidak satu, tetapi banyak: (1) Ada orang yang datang ke sana dan menduduki tanah itu. (2) Beberapa orang Muslim berusaha mencari solusinya dari al-Quran dan Sunnah. (3) Yang lain mencari pemecahanya ke PBB. (4) Sebagian mencarinya ke Inggris. (5) Sebagian lagi melakukan ijtihad sendiri untuk beperang. (6) Yang lainnya lagi ingin berdamai. Jadi, satu masalah, enam solusi. Ini tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Sebaliknya, Barat punya satu solusi untuk satu masalah. Apa yang akan mereka lakukan terhadap Dunia Islam, mereka punya sedemikian pendapat atas apa yang harus dilakukan oleh kaum Muslim, namun semuanya merujuk pada satu ideologi, yakni Kapitalisme-sekular. Itulah mengapa kita melihat Barat maju, karena mereka punya satu solusi atas masalahnya, sementara kita tidak. Memang, ada beberapa orang yang memiliki solusi Islam. Namun, tanpa ada negara, solusi itu tidak bisa diterapkan.

Apakah benar sistem ekonomi kapitalis telah membawa kemakmuran bagi masyarakat Barat?

Memang ada benarnya. Namun, dengan pengorbanan orang lain. Kita bisa lihat, Barat punya listrik 24 jam sehari, makanan selalu ada di meja. Salah satu ‘pembunuh’ terbesar di Barat adalah obesitas, karena mereka terlalu banyak makan. Sebaliknya, kita lihat Darfur, Somalia. Di sana warganya banyak yang kekurangan makanan. Jadi, kemakmuran yang dibawa sistem kapitalis ini adalah karena menghisap orang lain. Barat akan mengimpor seluruh kekayaan dari negeri-negeri Muslim, namun dengan harga yang murah. Ini pun harus sesuai dengan standar konsumsi pemerintahan Barat. Pada saat yang sama, di negeri-negeri Muslim, banyak kita jumpai anak usia 9 tahun yang bekerja membanting-tulang di pabrik membuat suatu barang. Barat sering tidak peduli walaupun mereka tahu itu. Mereka hanya berkata, kita tidak bertanggung jawab; kita tidak membeli barang dari perusahaan yang memperlakukan hal ini. Kalau kita lihat ke Banglades, kita bisa saksikan anak-anak bekerja siang-malam. Jadi, kesejahteraan memang ada di Barat, tetapi dengan ‘merusak’ negeri-negeri Islam.

Masyarakat Barat mendapatkan jaminan sosial. Apakah semua mendapatkan jaminan sosial? Ataukah ada paradoks?

Jaminan sosial ini sebenarnya adalah hal yang asing pada sistem kapitalisme. Dari mana ini berasal? Ini asalnya dari hasil persaingan dengan Uni Soviet, dengan sistem komunisnya, karena sistem komunis memberikan hal ini. Kapitalisme harus mengadopsinya untuk menunjukkan bahwa mereka juga mengurusi rakyatnya. Namun, sekarang Komunisme telah mati. Kita punya negara kesejahteraan (welfare-state) yang berlaku atas dasar kebutuhan, tetapi sering kebutuhan masyarakat sangat bervariasi. Contoh klasik: di Barat orang tidak mengurusi kaum jompo. Struktur keluarga adalah suami, istri dan anak-anak. Kadang-kadang tanpa anak. Rata-rata keluarga sekarang punya 1,7 anak-anak. Jika mereka punya kakek atau nenek, mereka tidak peduli. Mereka akan mengirimnya ke Panti Jompo. Untuk mengirim ke Panti Jompo, mereka harus membayar mahal. Tidak gratis. Mereka harus menjual rumah yang mereka miliki untuk memberikan sumbangan bagi rumah Panti Jompo. Di satu sisi, mereka mengklaim punya sistem kesejahteraan. Di sisi lain, mereka harus menjual rumah. Saya bisa mengatakan ini karena saya bekerja di bidang ini. Begitu banyak orang yang menjual rumahnya untuk dapat memenuhi kebutuhan mereka. Jika Anda mendapatkan sejumlah uang, Anda diharapkan menyumbang untuk rumah jompo Anda, dan ini tidak benar-benar gratis.

Apa sebetulnya yang mendasari sistem ekonomi kapitalis?

Dalam Kapitalisme ada kebebasan kepemilikan; juga ada pasar bebas dan globalisasi. Pasar bebas adalah istilah yang keliru. Kenyataanya, bebas untuk siapa? Bebas untuk Amerika, Inggris dan Prancis; bukan untuk negeri-negeri Muslim, karena Anda masih dikenakan pajak ekspor-impor, yang terutama dilakukan untuk orang Barat. Adapun konsep globalisasi seperti transfer ide, transfer pekerja, dll adalah ‘semu’. India, misalnya, memiliki angka tertinggi di dunia dalam hal insinyur di bidang software. Tiga puluh persen insinyur bidang software di dunia berasal dari India. Dunia Barat punya perangkap untuk imigran dengan keahlian yang tinggi ini. Mereka kemudian mengambil keuntungan. Mereka membuat peraturan imigrasi untuk mendapatkan orang-orang seperti ini. Di sisi lain, ada kepemilikan. Kepemilikan ini tidak diatur. Negara atau perusahaan swasta bisa memiliki apa saja seperti listrik, air, dan gas. Dalam sistem kapitalis, sumber-sumber itu bisa dimiliki oleh individu. Artinya, individu bisa mengontrol harga; bisa menaikkan dan menurunkan semaunya. Mereka berargumen, mereka punya badan yang mengawasi dan mengatur semua itu agar tidak berlebihan. Masalahnya, kita tidak bisa diperlakukan seperti itu ketika individual, perusahaan dan konglomerat besar mengontrol sumberdaya alam masyarakat. Dalam Islam, kita memperlakukan kepemilikan secara berbeda. Dalam salah satu hadis Nabi saw. dikatakan bahwa orang bersekutu dalam tiga hal: air, energi dan hutan. Ini berarti, minyak tanah tidak boleh dimiliki oleh Raja Abdullah dan keluarganya atau Khadafi. Semua itu harus dinikmati oleh masyarakat.

Kemudian mengenai perdagangan dan spekulasi mata uang. Sering pasar uang hanya bergantung pada 100 perusahaan saja. Bagaimana fungsi itu bekerja? Apakah mereka benar-benar melakukan perdagangan atau tidak, karena ada 100 perusahaan saja.

Apakah sistem ekonomi Kapitalisme saat ini mengalami kemunduran?

Kalau dikatakan mundur maka harus ada suatu pembanding. Saya mau mengutip surah al-Ankabut: laba-laba yang membuat sarangnya. Sarang laba-laba itu dapat hancur terbawa angin. Sistem ekonomi kapitalis adalah seperti sarang laba-laba. Kelihatan megah, namun sejatinya lemah sekali. Mengapa kita melihat Barat tinggi? Karena kita selalu rendah (merasa inverior). Anda tidak bisa berkompetisi jika tidak bisa masuk ke manufaktur, kontrol atas gas, mineral dan sumberdaya alam lain. Dalam Islam, kita punya cara bagaimana mengatur kepemilikan publik untuk memanfaatkan itu semua, baik bagi Muslim maupun non-Muslim.

Bagaimana prediksi Anda tentang kehancuran sistem ekonomi kapitalis?

Ini sering berdasarkan spekulasi. Contoh: perang di Irak. Harga minyak melambung, padahal supply masih tetap sama. Sebab, kita mengira, mungkin akan ada kekurangan, lalu harga minyak naik. Pendapat saya adalah bahwa kaum Muslim harus memecahkan dan menangani masalah mereka sendiri, mengurusi masyarakatnya sendiri dan memastikan bahwa kesejahteraan terdistribusi dengan baik. Itu hanya bisa dicapai dengan sistem Khilafah. Kita tahu bahwa Khilafah akan segera datang. Lembaga Penelitian Barat sendiri memperkirakan bahwa menjelang tahun 2020 akan berdiri Khilafah. Jika itu masalahnya, harus ada sistem ekonomi yang bisa menyaingi sistem Kapitalisme dan yang bisa mengatur masyarakat. Negara-negara Muslim punya banyak sekali sumberdaya alam. Sebaliknya, Barat punya keterbatasan minyak, dan harganya semakin melambung.

Apa kritik Anda terhadap sistem ekonomi kapitalis?

Dalam Kapitalisme, sepertinya tidak masalah jika kita menindas orang Srilangka atau Banglades sepanjang kita punya rumah di Inggris, punya banyak makanan, dll. Ya, Anda punya event organizer untuk konser membantu Afrika. Namun, realitasnya adalah kebijakan IMF dan World Bank yang menekan negara Afrika yang miskin itu. Ambil contoh, ada banjir di Mozambique. Inggris memberi bantuan sebesar 52 juta ponsterling. Namun, sedikit yang tahu, sebelum banjir, penduduknya punya listrik, air dll yang berada di tangan individu atau perusahaan besar. Mozambique sendiri punya utang sebesar 1 juta poundsterling setiap minggu. Jadi, 1 juta poundsterling yang diberikan akan langsung kembali ke mereka. Itulah globalisasi. Seorang syabab berkata, globalisasi itu seperti ada orang datang kepada saya dan mengatakan, “Saya perlu uang untuk membangun industri perikanan.” Saya jawab, “Tidak masalah. Saya pinjami kamu uang asal kamu membeli alat pancingnya dari saya.” Jadi, Anda meminjam 500 ponsterling. Anda mengembalikan 5 ponsterling tiap minggunya selama dua puluh tahun. Setelah 20 tahun, Anda membayar 50 hingga 100 kali lipat uang yang dipinjam. Sebaliknya, kalau kita punya teknologi, kita akan membuat alat pancingnya sendiri, juga jaring penangkap ikannya. Contoh lain: di Mesir Anda punya dana untuk pengembangan pendidikan. Pengembangan pendidikan dimulai dari tahun 1992 setelah Konferensi Kependudukan di Kairo. Anda lihat Mesir mengirim begitu banyak pendidik, dosen dan guru selama tiga bulan ke Barat, Amerika dan Prancis. Mereka mengirim tiga kelompok dosen. Jadi, ada 60 dosen untuk 5 perguruan tinggi; 300 setiap tiga bulan sehingga menjadi 900 orang. Uangnya sendiri datang dari sebuah kelompok di Amerika dan dari IMF dan World Bank. Biaya program ini adalah 1 juta dolar sehari selama sepuluh tahun. Ketika dosen-dosen itu tiba di Inggris, mereka tidak mendapat pelajaran apapun tentang pengajaran. Pasalnya, Inggris sendiri punya masalah dalam sistem pendidikannya. Sistem pendidikan di sana mengajarkan orang tidak menghormati orangtua dan nilai-nilai. Bagaimana bisa mereka mendatangkan pendidik dari Mesir, lalu mereka didik tentang pendidikan, padahal mereka sendiri punya masalah. Dengan sejumlah uang yang sama, sebenarnya Mesir bisa membangun sarana di bidang pendidikan; jutaan poundsterling bisa digunakan untuk membangun sekolah. Negara ini punya banyak ahli bidang pendidikan, tetapi mereka malah dikirim ke Inggris. Inilah globalisasi. [Dr. M. Salim ATCHIA. MBA]

Wallâh a‘lam bi ash-shawâb.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close